Pindah
Kemaren gratisan, sekarang pindahan
virtri.com sudah disiapkan untuk berjibun tulisan
Kemaren gratisan, sekarang pindahan
virtri.com sudah disiapkan untuk berjibun tulisan
Kamu bernyanyi lagi untukku; sebelum aku terlelap tadi malam.
Lamat-lamat kudengar suaramu dari telepon genggam di telingaku. Sudah lama tidak kudengar senandungmu. Suaramu memang tidak merdu-merdu amat, sahabat (huehehe. tapi lumayanlah dibandingin aku; atau seorang sahabat baik kita itu, hihihi! tetepp), tapi entah apa yang membuatku begitu merindukannya..
Telah letih langkahku dan terasa berat
cukup banyak kesalahan kubuat
dimimpiku ku dengar bunyi suaramu
yang memanggil ku pulang ke dalam hatimu
karena hanyalah hatimu
rumah terindahKu kan pulang tunggu aku didepan pintumu
cinta mu pada ku tuntun jalan ku
Telah letih jalan ku dan terasa berat
Ku kan pulang ke hatimu rumah terindah
Ku pulang ke hatimu
Rumah terindah
(shera, pulang ke hatimu, 9 naga)
Jarak. Mungkin sebentang jarak yang membuatku begitu merindukan hatimu; rumah terindahku.
“banyak orang bermimpi, beberapa diantaranya bangun dan mewujudkan mimpi itu” (aku pernah membaca kutipan ini, entah siapa yang menulisnya aku lupa)
Belakangan ini aku dilanda (baik disengaja maupun tidak) percakapan-percakapan tentang mimpi dengan sahabat-sahabatku. Aku selalu suka dengan mereka yang mempercakapkan mimpi mereka. Cemerlangnya binar bola mata, luapan emosi hati yang bergairah, rona pipi yang berseri, dan senyum yang mengembang pasti muncul tanpa terasa.
Seorang sahabat kost-ku punya sebuah mimpi. Dengan berapi-api dia bercerita mimpinya yang ingin membuka sebuah cafe. Konsepnya sudah dia pikirkan: cafe yang ramah, yang personal pada tiap pengunjungnya; terinspirasi kisah Starbucks, katanya. Dan yang terutama, mimpi itu ada karena dia menyukai kopi.
Sahabatku yang lain memiliki mimpi: berjuang untuk mereka yang termarginalkan. Dengan profesinya saat ini, ia mulai membangun mimpinya: berjuang dengan coretan tintanya. Dalam cakap kami di perjalanan sragen - jogja, setelah kami lama tak bersua, menggebu-gebu ia bercerita tentang apa yang ia akan raih.
Aku juga punya mimpi. Mimpi sederhana. Punya sekolah di depan rumah.
Sekolahnya akan berada di sebuah pendopo tak berdinding, di atas halaman depan rumahku yang dihiasi rumput hijau muda. Rumahku akan kecil saja; seperti paviliun, berdinding dan berlantaikan kayu. Di sebelah pendopo tersebut akan ada ruang kecil sebagai perpustakaan. Di sebelahnya lagi, ada taman kecil yang nyaman yang memiliki kolam yang juga kecil yang bersenandungkan suara gemericik air kecil-kecil.
Sekolah ini bukan sekolah formal. Ini hanya tempat belajar. Untuk anak-anak yang berada di lingkungan setempat. Pelajaran yang diberikan adalah tambahan dari apa yang mereka dapatkan di sekolah dengan gaya belajar yang berbeda tentunya. Atau tentang sesuatu yang tidak mereka dapatkan di sekolah, misalnya aplikasi seni atau mengenal alam dan budaya secara lebih riil (iya, bagiku secara umum kurikulum sekolah saat ini terlalu kaku). Mereka yang tidak bersekolah secara formal, juga boleh belajar di sini. Ini sekolah yang terbuka. Kamu juga boleh datang ke sini.
Kita akan selalu punya kelas “bercerita”, mengungkapkan pendapat tentang buku-buku yang kita baca, film yang kita tonton, keluarga dan orang-orang di sekitar kita yang menginspirasi, atau hal-hal kecil yang kita rasakan. Kelas ini akan membiasakan budaya bertutur, belajar mengungkapkan pendapat.
Ah ya, tentu saja kita juga memiliki pelajaran bermain! Misalnya permainan-permainan tradisional berkelompok yang sudah lama ditinggalkan. Pelajaran tentang kerja sama, keberanian, strategi, sikap menghadapi kemenangan dan hati yang lapang menghadapi kekalahan.
Dalam mewujudkan mimpi ini, setidaknya aku sudah punya 3 orang yang akan mendukungnya: seorang sahabat nyamanku yang bersamanya aku membangun mimpi ini sebentuk demi sebentuk sambil tidak melupakan mimpinya; seorang sahabatku yang luar biasa yang sudah menyatakan diri ingin bergabung dalam mengembangkan sekolah ini (ah, jika dia bergabung, aku tidak bisa membayangkan betapa menariknya sekolah ini kelak, betapa mereka yang belajar di sini akan tidak takut untuk bercita-cita); dan kakakku sayang yang aku yakin akan berkarya dengan hati untuk mereka yang belajar di sekolahku ini (kecintaannya pada anak dan dunia pembelajaran, tak perlu kuragukan lagi).
Aku juga sudah punya daftar sahabat dan kawan yang akan kutawari menjadi pengajar di sekolahku ini. Sebagai pengajar tetap atau tamu. Sahabat dan temanku saat ini terbilang lebih dari banyak yang hebat-hebat; termasuk kamu.
Dan, ketika saat itu tiba, dalam karyaku mengelola sekolah sederhana ini, aku juga memiliki profesi sampingan sebagai seorang penulis ternama (mimpi bangettt yaaa).
“Ah, rasanya mimpiku sulit untuk kuraih,” sempat kulontarkan hal itu pada sahabat nyamanku.
lalu katanya:
“Buatku, mimpi itu justru memang sesuatu yang tidak mungkin untuk saat ini; masih terlihat sulit untuk diraih. Jika saat ini kita sudah menjalaninya, itu bukan mimpi lagi.”
Yuk kita wujudkan mimpi kita!
aku bertemu lagi dengannya tadi malam.
sebenarnya aku sudah lama mengenalnya. kamu yang mengenalkanku padanya. kamu sudah mengenal dia jauh sebelum kamu mengenal aku.
aku pikir aku sudah cukup mengenalnya, hingga tadi malam datang. pengenalanku ternyata belum cukup dalam. banyak hal yang belum kumengerti tentangnya.
tadi malam kami bertengkar (meskipun aku tidak yakin jika itu didefinisikan dengan kata bertengkar). saat itu, dia mendengarkan semua keluhku, sebalku, marahku, sedihku, dan raguku; padanya. aku jadi sangat kekanak-kanakkan. aku pikir, harusnya itu menjadi saat yang tepat juga untuknya jika dia ingin mengungkapkan hal yang sama: berkeluh, sebal, ragu dan marah padaku. ah, akan menjadi pertengkaran yang seru pastinya!
tapi tidak. dia tidak terpancing dengan emosiku. dia hanya sempat nyatakan sedih; itu pun tak lama. dan yang dia lakukan kemudian adalah mendengar, mendengarkan dan mendengarkanku, lalu ketika aku sudah mulai tenang, dia mengambil suatu sikap, sikap yang benar-benar bijak; sangat dewasa.
aku heran di mana dia mendapatkan kebijaksanaan itu; kedewasaan itu. kamu tak pernah sekalipun menceritakan padaku dari mana hal yang dimiliki dia itu berasal.
bagiku dia sangat luas dan dalam.
dia : hatimu.
beberapa saat yang lalu aku dan seorang kawan bercakap-cakap mengenai kerja. ada satu bagian yang cukup menghenyakkanku; ketika ia memberikan pendapatnya mengenai aku: aku dan kerjaku.
“bagiku, kamu belum menunjukkan apa yang telah kamu capai dan hendak kemana kamu melangkah. jika kuandaikan, kerja dan karir adalah bagaimana kita membangun jalan atau jembatan; apa yang kamu lakukan saat ini hanya mengumpulkan bahan-bahan atau materialnya terus. kamu mengumpulkan dan terus mengumpulkan, namun belum juga mulai membangun. kamu sudah punya banyak, namun kamu belum memulainya juga. kamu seperti anak kecil yang senang bermain-main dengan dunianya.”
untuk seorang aku yang sering mendapat input sebaliknya, tentu saja hal ini cukup mengagetkanku. ternyata pendapat orang mengenai aku dan kerjaku cukup beragam. aku yakin kamu juga punya pendapatmu sendiri tentang aku.
aku senang dengan orang-orang yang jujur mengatakan pendapatnya tentangku. buatku, sah-sah saja ketika orang menilai (aku pun juga sering menilai orang lain).
ketika ada keinginan untuk mengkoreksi penilaian terhadap aku yang sebenarnya tidak kusetujui, sebisa mungkin aku akan menahan diri (meskipun tak jarang gagal, hehe). ingat konsep jendela jauhari? ya, ada sisi yang orang lain atau kamu tidak bisa lihat dari seorang aku, sisi yang tak mungkin aku paparkan semuanya. karenanya, wajar ketika orang lain atau kamu menilai aku hanya dengan melihat dari sisi yang terbuka jelas tentang aku.
tapi aku sungguh sangat menghargai semua pendapat itu; baik dan buruk..dan mengambil apa yang perlu kuambil untuk kebaikanku,
lalu aku mengambil waktu untuk mencernanya..
“bahwa bagiku bekerja adalah berkarya; menghasilkan suatu karya, yang baik tentunya, yang mendatangkan manfaat untuk orang lain
bahwa bagiku bekerja adalah bisa menginsipirasi orang lain dengan karyaku; mereka bisa lebih baik, meskipun hanya untuk hal- hal sederhana
bahwa bagiku bekerja adalah menghadirkan senyum di wajah orang-orang di sekelilingku; hal itu kuberi nama kebahagiaan”
ada benarnya apa yang dikatakan kawanku, saat ini aku terus dan terus mengumpulkan. iya, aku mengumpulkan semua yang bisa mewujudkan ‘karya impianku’ kelak
aku menikmati karyaku, seperti halnya aku begitu menikmati hidupku.
work hard, play harder.. and the hardest thing: enjoy our life..
"Aku kangen, wallpaperku gambar kamu lagi ngiler bikin tambah kangen" demikian bunyi layanan pesan pendek yang dikirim sahabatku tadi siang.
Huh, cantik benarrrrrr!!!!!!!!!
(baca: ini cara baruku memaki orang setelah ‘kurang ajarrr’ dan ‘ga sopaaannnnn’)
Dia berlebihan. Aku tahu tentang gambar itu. Gambar aku yang tertidur sesaat di bangku panjang stasiun di kota berhati nyaman. Jelek memang; mata terpejam, mulut yang sedikit terbuka (untuk tidak mengatakannya menganga), tapi tidak sedang mengiler kok, sungguh (aku memang ngileran, tapi tidak di tempat umum. di tempat umum aku hanya ngiler terhadap laki-laki keren, hihihi)
Dia berhasil mengambil gambar itu beberapa hari yang lalu ketika kami menunggu datangnya kereta tengah malam dari barat. Menunggu selama kurang lebih 3.5 jam dengan mata berat tertahan di pergantian hari membuat kami sangat lelah; bertarung dengan jam biologis yang biasanya digunakan untuk lelap dalam mimpi.
Mungkin gambar itu adalah gambar terjelek dari segelintir gambar jelek yang kupunya (gambar-gambarku biasanya cantik-cantik, jikapun ada yang jelek, biasanya langsung kuhapus, tidak kusimpan, huehehe). Tapi dia justru menyukainya, menjadikannya wallpaper.
Aku jadi teringat akan ungkapan Gregory pada Rose dalam film ‘the mirror has two faces’ (film yang darinya lahir lagu kesukaanku, ‘i finally found someone’):
"Aku tetap mencintaimu, meskipun kamu cantik"
Seorang sahabatku, Ilma, memberikan baton padaku udah 1 bulanan yang lalu. Yaa, namanya juga Virtri. Meski suka nulis, tapi nge-blog itu mah sifatnya kebutuhan tersier, gede di niat doank J.
Ilma mendapat baton dari temannya, sebut saja si X. X ini mendapat dari B, B dari R, dst, dst. Nah, Ilma diminta juga meneruskan ke teman-temannya, demikian juga dengan teman-temannya untuk meneruskan ke teman-teman berikutnya, dst, dst. Baton yang kudapat dari Ilma adalah deskripsi delapan hal tentang aku: sifat dan kebiasaanku.
Baton itu sendiri memiliki beberapa pengertian. Yang paling sering digunakan adalah tongkat yang digunakan konduktor dalam pertunjukkan musikal. Lalu apa hubungannya dengan pola terus-meneruskan ini? Ternyata ada satu pengertian lagi yang lebih dapat digunakan untuk memahami tentang baton ini: tongkat estafet. Nah, sekarang jadi lebih jelas kan?
Menurutku, konsep baton di sini lebih bertujuan untuk mengetahui sesuatu atau beberapa hal yang kita ingin tahu dari teman atau sahabat dari sudut pandang si teman atau sahabat kita itu. Bisa jadi itu karena kita belum tahu atau sudah tahu tapi ingin mengenalnya lebih dalam.
Dalam salah satu teori psikologi (ceritanya anak komunikasi yang sok tau tentang dunia psikologi nih! :D), ada konsep tentang jendela pengenalan diri:
Jendela 1 : Sifat/kepribadian tentang diri kita yang kita ketahui, namun orang lain tidak tahu
Jendela 2 : Sifat/kepribadian tentang diri kita yang orang lain tahu, namun kita tidak tahu
Jendela 3 : Sifat/kepribadian tentang diri kita yang kita dan orang lain sama-sama ketahui
Jendela 4 : Sifat/kepribadian tentang diri kita yang baik kita sendiri maupun orang lain tidak tahu (yang tahu hanya Tuhan kali ya, hehehe)
Nah, baton ini bertujuan untuk menguak jendela 1 untuk menuju ke jendela 3.
Sebelum meneruskan tentang baton yang kudapat dari Ilma, ada dua jenis baton yang mengganjalku:
1. Baton di Bulletin Board-nya Friendster (yang jarang aku baca itu lohh. Ga tau kalo kamu). Beberapa yang sempat kubaca sambil lalu kayaknya tentang baton membaton. Dan batonannya adalah tentang hal-hal kecil yang menurutku (maaf) celemente (diksi ku jelek banget! :p). Misalnya daftar tentang hal-hal berikut:
- Makanan kesukaanmu?
- Warna kesukaanmu?
- Merk HP-mu?
- Lagi senang dengar lagu apa?
- Siapa orang yang paling kamu rindukan saat ini?
- Siapa orang yang terakhir mengirimkanmu sms?
- Bunyi smsnya?
- Dst
Duh, engga banget kaannn. Untuk apa gitu loohhh daftar ini. Bukannya sebagian besarnya dah ada di profile FS. Dan sisanya.. itu kan ga pentiiiing banget! Tapi pola baton seperti itu berjalan dan digemari! Jadi teringat waktu SD, waktu itu aku sering nulis biodata di buku teman-teman, dan sebaliknya. Bedanya waktu itu ditambahi “kata mutiara” dan “pantun” huehehehe.
2. Baton yang memiliki dampak, baik dan buruk.Biasanya dikirimkan via personal email, milis, atau juga di bullentin board. Baton ini tidak untuk diisi, tapi untuk diteruskan ke teman-teman. Dengan meneruskan/tidak meneruskannya kamu mendapat hal-hal berikut:
Materi (PDA, Laptop, ato duiiiiiitttt!!!!)
“Jika kamu meneruskan ke sepuluh temanmu, maka Microsoft akan mengirimkan uang sejumlah sekian sekian ke rekeningmu, bla…bla…bla…”
“Jika kamu meneruskan ke 1-5 temanmu, maka seseorang yang kamu sayangi akan meneleponmu nanti sore”
“Jika kamu meneruskan ke 6-20 temanmu, maka sesuatu yang indah akan terjadi padamu esok hari”
“Jika kamu meneruskan pada lebih dari 20 temanmu, kebahagiaan akan besertamu”
“Jangan abaikan email ini. Jika kamu tidak meneruskannya, sesuatu yang buruk akan terjadi padamu!” Hiiiiiiyyyyy… :p
Hehehe, satu kali pun tak pernah kugubris email seperti ini. Menyedihkan sekali jika hidupku, kebahagiaanku ditentukan hanya dari surat elektronik; bagaimana sikapku untuk meneruskannya atau tidak J.
Lepas dari 2 jenis baton di atas, baton yang dari Ilma akan kugolongkan dalam baton dalam rangka pengenalan ke teman dan sahabat lebih dalam. Eh kalo dipikir-pikir, Baton di Bulletin Board FS juga bermaksud untuk mengenal lebih dalam tentang seseorang. Umm, lebih tepatnya mengenal lebih detail. Detail-detail yang tak penting. Hehehe, kok aku jadi sinis sih.
Ah, aku berlebihan dalam memahami baton. Bisa jadi, konsep baton ini terjadi begitu saja, tidak serumit yang aku pikirkan, ya tanpa tujuan saja, hanya permainan seru dalam dunia maya. Jika di dunia nyata kita mengenal permainan “truth or dare”, maka baton adalah permainan “truth or truth”. Hehehe.
Lalu, deskripsiku tentang aku?
Seperti yang kamu tahu, aku masih seseorang yang menyukai hidup, menikmati tiap saatnya, tiap sudutnya.
Sifat dan kebiasaanku?
Kamu akan tahu seiring kamu mengenalku lebih dalam; dalam kebersamaan kita.
Baton selayaknya diteruskan. Aku akan meneruskannya padamu, iya kamu, kamu yang ingin menguak tentang jendela 1 kepribadianmu dalam goresan tulisan. Teman dan sahabatmu pasti akan terbantu untuk mengenalmu; mengetahui apa kesukaanmu dan apa yang tidak kamu sukai. Lumayan kan, mereka jadi tahu hendak memberi hadiah apa di hari ulang tahunmu atau kemana mereka akan membawamu kencan atau jalan-jalan.
Namun, jika kamu tidak mau, tak mengapa. Aku tidak memaksa kok.
Aku tahu kita akan mengenal lebih dalam; dalam sapa dan sua kita.
“Kamu yakin akan meninggalkan pulau ini?”
“Tentu saja!”
“Tidak berat?”
“Mengapa?”
“Lihat baik-baik. Tempat ini begitu cantik, sayang! Ini pulau yang dicintai dewa dan dewi”
“Tapi tidak ada kamu di sini!”
“Gombal!”
“Hahaha, iya gombal. Tapi itu benar. Seperti halnya kamu, aku juga tak ingin berjengkal darimu. Di pulau indah ini aku seakan terkurung, dibatasi jarak dan waktu denganmu; terbenam di pulau impian.”
Semburat jingga kemerah-merahan kian membayang di langit. Diiringi debur ombak yang bergulung-gulung di atas hamparan pasir putih, mentari bergerak perlahan; beranjak-anjak ia turun kembali ke peraduannya, masuk ke dalam laut maha luas.
(ini bukan tulisan tentang mudik. kalo mudik, judulnya akan "from surabaya to jogja", hehe. oia, selamat idul fitri ya untuk kamu yang merayakannya. aku minta maaf untuk segala tuturku yang bercela dan lakuku yang tak berkenan di hatimu. kamu mau memaafkanku, kan?)
Delapan bulanku tinggal di Malang sudah tuntas. Akhir September kemarin aku pindah ke Surabaya untuk tinggal di kota pahlawan ini.
Malang yang sejuk, Malang yang cantik, Malang yang nyaman, tak akan kudapati lagi tiap harinya. Bagaimana aku bisa mudah melupakan kota itu, delapan bulan adalah waktu yang lebih dari cukup bagi Malang untuk menawan hatiku. Tiap pagi dan sore aku disuguhi pemandangan liuk siluet pegunungan yang hingga sekarang tak dapat kuhafal satu per satu gunung apa saja yang mengelilingi kota indah itu. Kota yang dicintai gunung-gunung, demikian sapa sahabatku pada kota ini. Wajar saja jika hawa di kota ini begitu bersahabat. Hembusan angin yang lembut, hijau pohon di sisi kiri dan kanan jalan-jalan kota, dipadu dengan beberapa bangunan tua jaman Belanda menarik kedua sudut bibirku untuk tersenyum tiap aku menyusurinya.
Ada beberapa sudut yang membuatku betah berlama-lama untuk menikmati kota ini:
Alun-alun. Di pusat kota ini terdapat tiga bangunan rumah ibadah yang bersisian: Masjid, Gereja Katolik, dan Gereja Kristen. Kuno memang, namun justru di situlah letak keindahannya. Ah ya, di Gereja Kristen itu, GPIB, di sanalah orang tuaku mengucapkan ikrar suci mereka tiga puluh dua tahun lalu. Hmmm..
Masih di alun-alun, di sana terdapat "Warung Es Krim Oen". Ini pilihan tepat untuk mereka yang mau merasakan jaman tempoe doeloe. Warung atau lebih tepatnya restoran ini masih mempertahankan suasananya: dandanan para pelayannya, dekorasi ruangnya, maupun meja dan kursi anyaman tempat kita duduk.
Sepanjang Jalan Ijen. Ada perumahan di tengah kota yang memiliki bangunan Belanda. Boulevard ada ditengahnya. Juga tugu bunga. Hijau mendominasi sepanjang jalan yang lebar ini. Sejuk sekali. Di minggu pagi, jalanan ini ditutup untuk kendaraan untuk menyediakan ruang publik bagi mereka yang ingin berolah raga pagi atau menikmati berbagai jajanan. Ah, mengingatkanku pada seputaran kampus UGM. Jika kota Malang sedang berulang tahun, sepanjang jalan ini menjadi tempat untuk diadakannya festival rakyat: Malang Kembali atau Malang Tempo Dulu. Ketika mengunjunginya kemarin, aku senang sekali. Senang melihat bagaimana rakyat Malang antusias mengetahui sejarah negeri ini di kota mereka. Senang juga dengan kumpulan manusia yang mencintai karya tradisional yang bangsanya hasilkan sendiri.
Nasi Pecel Mbok Djo, Sop Buntut Aroda, dan Tahu Telor Pak Pedes. Hahaha, iya tiga tempat makan ini memang tidak besar dan tidak sepopuler Pecel Kawi misalnya. Namun, kurang ajar! Aku benar-benar menyukai tiga makanan ini!
Masih banyak lagi sudut-sudut yang kusuka: Taman Tugu di depan Balai Kota, Perjalanan menyusuri Batu, Pujon hingga Pare, Gerejaku di Bromo, Pantai Balekambang nan menakjubkan, hingga kamar kosku yang nyaman.
Belum lagi kenangan akan kita; kebersamaan kita. Kencan-kencan irit dan kencan-kencan boros, demikian kita menamainya. Hahaha, itu bukan kencan, sahabat, itu perjalanan. Iya, penjalanan yang selalu saja menyenangkan jika bersamamu.
Sekarang, aku berada di Surabaya. Belum genap satu bulan aku mendiaminya. Panas, beda dengan Malang. Airnya juga tidak sesejuk di sana. Bau tak sedap sering tak sengaja kuhirup jika bertemu dengan kali-kali di tengah kota. Pemandangan yang kudapatkan tiap harinya juga berbeda. Tidak ada pegunungan yang bisa dengan leluasa kupandangi ketika aku menyusuri jalan-jalannya. Yang ada sekarang adalah mal-mal dan plasa-plasa, kerumunan mobil dan motor yang saling berpacu di jalan tanpa toleransi, pasar yang tumpah hingga ke badan jalan; ruwet.
Namun aku percaya, pasti terdapat banyak sudut-sudut yang bisa kunikmati juga di sini. Beberapa sudah kudapat. Memang masih dalam hitungan jemari tangan tapi akan bertambah tiap harinya, aku yakin kok. Setidaknya, kamar kost-ku saat ini begitu cantik.
Seperti halnya aku terbiasa mencintai setiap manusia yang kutemui dalam hidupku ini, tanpa memandang rupa; aku juga akan mencintai kota yang akan kudiami saat ini: Surabaya.
malam sudah. namun pesan elektronik darimu menggodaku untuk segera membuka puluhan gambar yang kamu bagikan untukku.
satu demi satu kubuka:
hamparan pasir putih pulau dewata nan cantik,
lambaian nyiur yang hijau penuh,
bocah-bocah yang bermain di pantai,
prasasti bersejarah di tengah pusat kota,
kolam renang dari balik jendela kamar hotelmu,
kamar barumu sejak dua hari lalu,
hingga gambar sorot teduh dari sepasang mata mu.
tak terasa air mata membayang di mata. aku seakan memasuki hidupmu di sana. aku suka itu. dan, aku semakin merindumu. iya, kamu; nyamanku.