Archive for September, 2008

dia

aku bertemu lagi dengannya tadi malam.

sebenarnya aku sudah lama mengenalnya. kamu yang mengenalkanku padanya. kamu sudah mengenal dia jauh sebelum kamu mengenal aku.

aku pikir aku sudah cukup mengenalnya, hingga tadi malam datang. pengenalanku ternyata belum cukup dalam. banyak hal yang belum kumengerti tentangnya.

tadi malam kami bertengkar (meskipun aku tidak yakin jika itu didefinisikan dengan kata bertengkar). saat itu, dia mendengarkan semua keluhku, sebalku, marahku, sedihku, dan raguku; padanya. aku jadi sangat kekanak-kanakkan. aku pikir, harusnya itu menjadi saat yang tepat juga untuknya jika dia ingin mengungkapkan hal yang sama: berkeluh, sebal, ragu dan marah padaku. ah, akan menjadi pertengkaran yang seru pastinya!

tapi tidak. dia tidak terpancing dengan emosiku. dia hanya sempat nyatakan sedih; itu pun tak lama. dan yang dia lakukan kemudian adalah mendengar, mendengarkan dan mendengarkanku, lalu ketika aku sudah mulai tenang, dia mengambil suatu sikap, sikap yang benar-benar bijak; sangat dewasa.

aku heran di mana dia mendapatkan kebijaksanaan itu; kedewasaan itu. kamu tak pernah sekalipun menceritakan padaku dari mana hal yang dimiliki dia itu berasal.

bagiku dia sangat luas dan dalam.

dia : hatimu.

berkarya

beberapa saat yang lalu aku dan seorang kawan bercakap-cakap mengenai kerja. ada satu bagian yang cukup menghenyakkanku; ketika ia memberikan pendapatnya mengenai aku: aku dan kerjaku.


“bagiku, kamu belum menunjukkan apa yang telah kamu capai dan hendak kemana kamu melangkah. jika kuandaikan, kerja dan karir adalah bagaimana kita membangun jalan atau jembatan; apa yang kamu lakukan saat ini hanya mengumpulkan bahan-bahan atau materialnya terus. kamu mengumpulkan dan terus mengumpulkan, namun belum juga mulai membangun. kamu sudah punya banyak, namun kamu belum memulainya juga. kamu seperti anak kecil yang senang bermain-main dengan dunianya.”


untuk seorang aku yang sering mendapat input sebaliknya, tentu saja hal ini cukup mengagetkanku. ternyata pendapat orang mengenai aku dan kerjaku cukup beragam. aku yakin kamu juga punya pendapatmu sendiri tentang aku.

aku senang dengan orang-orang yang jujur mengatakan pendapatnya tentangku. buatku, sah-sah saja ketika orang menilai (aku pun juga sering menilai orang lain).

ketika ada keinginan untuk mengkoreksi penilaian terhadap aku yang sebenarnya tidak kusetujui, sebisa mungkin aku akan menahan diri (meskipun tak jarang gagal, hehe). ingat konsep jendela jauhari? ya, ada sisi yang orang lain atau kamu tidak bisa lihat dari seorang aku, sisi yang tak mungkin aku paparkan semuanya. karenanya, wajar ketika orang lain atau kamu menilai aku hanya dengan melihat dari sisi yang terbuka jelas tentang aku.

tapi aku sungguh sangat menghargai semua pendapat itu; baik dan buruk..dan mengambil apa yang perlu kuambil untuk kebaikanku,

lalu akuĀ  mengambil waktu untuk mencernanya..


“bahwa bagiku bekerja adalah berkarya; menghasilkan suatu karya, yang baik tentunya, yang mendatangkan manfaat untuk orang lain

bahwa bagiku bekerja adalah bisa menginsipirasi orang lain dengan karyaku; mereka bisa lebih baik, meskipun hanya untuk hal- hal sederhana

bahwa bagiku bekerja adalah menghadirkan senyum di wajah orang-orang di sekelilingku; hal itu kuberi nama kebahagiaan”


ada benarnya apa yang dikatakan kawanku, saat ini aku terus dan terus mengumpulkan. iya, aku mengumpulkan semua yang bisa mewujudkan ‘karya impianku’ kelak :)

aku menikmati karyaku, seperti halnya aku begitu menikmati hidupku.

work hard, play harder.. and the hardest thing: enjoy our life.. :)