menulis

“Aku ingin jadi penulis!”

kataku padamu.

“Ya menulislah!”

tangkasmu cepat.

Menulis. Sebuah pekerjaan yang sesungguhnya mudah namun sulit buatku. Entah kesulitan untuk mengawalinya, melanjutkannya ketika berada di tengah, atau menyelesaikannya ketika sudah berada di klimaks. Kesulitan menyempatkan diri untuk menulis dalam kesibukan kerjaku, atau mungkin bisa jadi kesulitan untuk menyingkirkan rasa malasku. Padahal, ada begitu banyak hal yang ingin kubagikan melalui tulisan:

tentang ragam manusia yang kujumpai di tiap sudut, yang hebat, yang unik, yang menarik, yang mengharukanku, ataupun yang mengesalkanku;

tentang pemandangan-pemandangan menakjubkan yang kutemui di sepanjang perjalanan dalam karyaku, yang membuatku lebih lagi melimpahkan syukur pada Sang Pelukisnya;

tentang hal-hal sederhana yang indah dalam aku meniti rentang waktu: bahagia dan kecewa yang menjadi warna-warni dalam hidupku;

tentang apa pun;

pun sekedar tentang perasaanku padamu.

Aku tidak dapat mengingat dengan jelas kapan aku mulai senang menulis. Setidaknya yang kutahu adalah sejak kelas lima di bangku sekolah dasar, aku mulai akrab dengan buku harian. Buku harianku kupanggil ”Lotta”. Entah apa yang mendasari nama itu. Hari demi hari kugoreskan tinta padanya; membagi cerita tentang aktivitas, teman-teman, keluarga, sekolah, dengan sudut pandang seorang anak perempuan sepuluh tahun. Sungguh tulisan polos yang menarik ketika saat ini kubaca kembali.

Di bangku sekolah menengah pertama pun aku masih melanjutkan ”Lotta”-ku. Kecamuk perasaan remaja perempuan yang mulai mengalami pubertas pun tergambar dalam torehan-torehan dalam sebuah buku. Kerinduan akan persahabatan, keresahan akan belum datangnya menstruasi, ketertarikan pada lawan jenis, timbulnya letup-letup cinta monyet, hahaha…

Pada masa itu aku juga mulai senang menulis naskah-naskah sederhana. Bukan, bukan untuk pementasan yang kamu pikir. Naskah itu hanya untuk pelajaran percakapan dalam kelas bahasa indonesia. Hal itu bergulir sampai aku duduk di bangku sekolah menengah atas. Buku harian, naskah kecil-kecilan, tulisan-tulisan imajinatif-kreatif (ini jenis tulisan yang kunamai sendiri, hehe), puisi melankolis romantis gombalis, hingga akhirnya aku mulai terlibat dalam ruang tulis-menulis yang lebih profesional: buletin pemuda gereja.

Di masa kuliah, banyak sekali kawan yang jago menulis. Aku senang membaca tulisan-tulisan mereka. Sempat terpacu untuk ikut kelompok Jurnalistik. Namun akibat satu, dua, dan tiga hal, aku tidak jadi L. Syukurlah dalam organisasi PMK yang kugeluti terdapat buletin yang bisa dijadikan ruang pemenuhan nafsu menulis. Disamping itu, berbagai makalah kuliah dan esai-esai akhirnya menjadi pelampiasanku. Tentang hal terakhir ini ada tiga kejadian yang membuatku semakin percaya diri bahwa tulisanku sebenarnya lumayan juga (ya, bolehlah ya membanggakan diri sekali dua).

Pertama, makalah pertama yang kubuat dalam sebuah mata kuliah di tahun pertama kuliah terpilih menjadi salah satu yang terbaik (bersama 5 orang lainnya). Dari segi isi memang biasa saja, namun aku senang karena sang bapak dosen tidak memberikan coretan apa pun terhadap logika berpikir maupun cara menulisku: SPOK, tanda baca, dsb. Duh, kalau saja kamu melihat makalah teman-temanku. Guratan-guratan dengan komentar yang cukup tajam menghiasi makalah mereka. Salut untuk bapak dosenku yag satu ini yang jeli dan tahan sekali membaca satu demi satu kata dalam 70-90an makalah yang terkumpul.

Kedua, aku pernah mendapat sebuah buku dari seorang dosen karena sebuah esai yang kubuat dalam rangka mengkritik metode kuliahnya. Iya, sebuah esai kritik. Sang dosen memang sejak awal mengatakan bahwa dia akan menyediakan sesuatu untuk mahasiswa mata kuliahnya yang dapat memberikan tulisan kritik terbaik untuk mengevaluasi kelas kuliahnya. Dan ketika pilihan itu jatuh ke goresan lugasku, aku senang sekali. Aku ingat sekali, pada saat itu aku mengambil kelas kuliah yang seharusnya belum diambil angkatanku. Teman-teman kelas kuliah tersebut adalah kakak-kakak angkatan. Yippie!

Ketiga, percobaan pertamaku untuk mengirim sebuah tulisan opini ke Kompas berhasil dimuat! Pagi hari di hari Jumat aku terbangun dan mengambil harian yang menjadi ‘sarapan’ pagi di rumahku. Aku terperanjat! Tulisanku dimuat lengkap beserta foto cantik-ku! Sambil berteriak-teriak aku menunjukkan harian tersebut ke keluargaku. La…la…la…la..la.. “Pagi yang indah!” senandungku berulang kali.

Dan setelahnya aku larut dalam skripsi (menulis juga tuh!). Dan setelahnya aku larut dalam kerja. Tahun lalu sempat aku terlibat dalam media komunikasi internal dwi bulanan di kantor, tapi terhenti semenjak aku kembali kerja di area (baca: di daerah luar Jakarta). Dan setelah bekerja di area, tepatnya tahun ini, buku harian tak tersentuh, blog sering dianggurkan, surat cinta penuh puisi melankolis romantis gombalis juga tak dilayangkan (hehehe, layangkan kemana ya?).

“Ya, menulislah!”

Iya, semangati aku terus ya untuk menulis:

untuk berbagi tentang hidup; hidup indah yang kita miliki.

Info Kerja: J&J Management Trainees

Dears,

J&J recruit di beberapa kampus: ITB, UGM, UI, UNPAD, UII, PPM, Prasetya Mulya. Harusnya dah tutupan. Tapi kalo mo coba, dalam hari2 ini mungkin masih dibuka.
Jadi, kalo tertarik, mending buruannnn!!!!

Regards,
- V -

Johnson & Johnson is the world’s most comprehensive and broadly based manufacturer of health care products, as well as a provider of related services, for the consumer, pharmaceutical and medical devices and diagnostics markets. The more than 200 Johnson & Johnson operating companies employ approximately 115,000 men and women in 57 countries and sell products throughout the world.

Our Consumer Division in Indonesia invites you to be a part of our distinguished:

Management Trainees

General Requirements
- S1 and S2 Graduates with major in Business/Management, Marketing, Finance, Engineering, Human Resource, and Information Technology
- Minimum GPA of 3.0 (B) in the scale of 4
- S-2 Graduates in Business/Management, with minimum GPA of 3.5 in the scale of 5
- For S2, 1–2 years working experience will be an advantage although not required
- Fluent in English, verbal and written
- Willing to be posted nationwide where J&J operates

Core Competencies
Entrepreneurial mindset, inner drive, good leadership, good teamwork, big picture Orientation with attention to detail, intellectual curiosity, sense of urgency, prudent risk taking, willingness for cross-functional exposures, result and performance driven.

J&J Management Trainee Program is an 18-month on-the-job program that consists of assignments in at least two different functions in the company which may include Sales, Marketing, Finance, Supply Chain, Human Resources, and Information Management. You will have the privilege of being mentored by senior J&J leaders and the opportunity to contribute in achieving business goals.

Candidates who meet the above requirements are invited to submit your application (cover letter, curriculum vitae, photos, and  academic transcript) to:

fsari@conid.jnj.com

The J&J Management Trainee selection will start in July 2007.

HUMAN RESOURCES – J&J INDONESIA

what if

Bagaimana jika aku katakan aku bahagia berada di dekatmu,

bersama kita tersenyum, terbahak, atau hanya menikmati diam.

Ini sudah lewat dari seribu masa.

Harusnya sudah melayang segala letup rasa.

Panas, dingin, cerah, berawan, gerimis, deras, pelangi maupun badai sudah kita jalani penuh.

Harusnya sudah muncul rasa jenuh.

Bagaimana jika aku katakan aku nyaman berada di dekatmu,

bersama kita tersenyum, terbahak, atau hanya menikmati diam.

Aku bisa mencinta;

dengan tetap menjadi diriku;

apa adanya aku;

tanpa berpura;

tanpa terpaksa.

Bagaimana jika aku katakan aku bahagia dan nyaman berada di dekatmu,

bersama kita tersenyum, terbahak, atau hanya menikmati diam;

maukah kamu tidak berjengkal dariku?

aku dan gambar diri

Hari-hari belakangan ini, aku dapat banyak email dari teman-teman lama. Selain cerita-cerita tentang hidup mereka, ada isi email mereka yang bunyinya hampir senada:

“Vir, foto loe di FS ancur banget. Mana foto loe sekarang?”

“Hey, upload foto donk. Loe masih sama ga sekarang ma dulu?”

Hmm… ternyata penting ya foto untuk teman2 lama!

(Iya juga sih. Aku juga sering menanyakan hal yg sama ke temen2 lama)

Untuk memenuhi permintaan pasar (halah!), akhirnya kubuka-buka folder “My Pictures” dalam komputerku. Sebagai salah satu species homo narcicsius, fotoku banyak. Namun yang fotoku sendiri; yang bagus (baca: nampak endut atau setidaknya sedikit berisilah, plus yg ga neko-neko :p) koq jarang yaa. Yang ada malah foto bareng temen2 dan keluarga dengan pose2 aneh bin ajaib.

Kucari, kutimbang-timbang, kupilih-pilih.

Akhirnya kutemukan beberapa yg lumayan untuk dicantelin di FS (emang ada gitu kriteria standard foto untuk FS!).

Setelah kulihat apa yang ku-upload, ternyata biasa saja semua.

Ah, aku toh memang orang biasa! Hidupku saja yang luar biasa! J

aku terganggu

Hentikan.

Iya hentikan semua pesan pendekmu yang kamu kirimkan di tiap pergantian subuh ke pagi, pagi ke siang, siang ke sore, sore ke malam, bahkan di kala tengah malam menjelang subuh. Bertanya atau menyatakan hal-hal sederhana yang harusnya tidak kamu tujukan padaku. Beberapa memang wajar, namun tidak selebihnya.

Sudahlah.

Aku tidak suka dengan rayuanmu. Baik gombal ataupun tulus. Tidak pantas. Aku menghargaimu; sebagai rekan kerjaku. Itu saja. Tidak lebih. Jika aku berteman denganmu, itu karena aku berteman dengan semua orang. Aku bukan pencari musuh.

Cukup.

Ada rasa sebal yang mulai menelusup di hatiku. Aku tidak ingin membuatnya menjadi rasa muak.

Aku perempuan yang menghormati laki-laki yang mencintai istrinya.

Jika kamu masih ingin berteman denganku, kamu tau harus bagaimana, bukan?

aku mencintaimu

masih…

Mencari Bintang

Jakarta, minggu pertama di bulan Januari.

Langit terlihat jelas dari balkon kamar kost-ku. Kost yang bernuansa kuno yang berada di sudut lantai dua, memiliki atap rendah sehingga menjadikannya hangat, dan balkon kecil untuk mempercantik kamar yang sudah manis. Bintang bertabur di langit. Bagus. Tapi tidak ada bintang yang kucari.

Surabaya, minggu kedua Januari.

Kepindahanku ke Jawa Timur diawali di kota ini. Hawa panas dari lumpur Sidoarjo dapat kurasakan dari kantor dan hotel yang letaknya tidak jauh dari Bandara Juanda. Aku mencarinya di malam hari, tidak kutemukan. Mungkin dapat kucari pada siang hari, pikirku. Tapi ternyata sinar matahari yang menyengat membuatku tak dapat menatap langit untuk mencari bintang di siang hari. Atau mungkin debu yang menghalangi pandangan mataku.

Bali, minggu ketiga Januari.

Pantai Kuta. Aku senang sekali berada di sini selama lima hari. Menatap keindahan matahari yang melangkah perlahan ke peraduannya. Jingga membayang di garis pantai dan langit. Pencarianku akan bintang belum berakhir. Jika di langit malam dan siang sulit kutemukan, lebih baik kucari pada hamburan pasir pantai pada senja di Kuta. Banyak bintang laut yang terhampar ke tepian. Tapi, lagi-lagi aku tak mendapatkan yang kucari.

Malang, minggu keempat Januari.

Siapa bilang aku putus asa mencarinya. Langit boleh tidak memberiku bintang yang kucari, siang boleh saja menghalangi pandangan mataku untuk menemukannya, pantai bisa jadi menyembunyikannya dariku. Aku tak putus asa. Aku mencarinya di gunung. Aku ke tempat yang tinggi di Malang; di Batu. Dingin, sejuk, menyenangkan. Tapi… aku tetap tak berhasil mendapatkan bintang yang kucari.

Akhir Januari

Aku menyerah, aku menundukkan kepalaku.

Dan hey, aku menemukannya!

Ada bintang yang kucari:

di hatiku.

temani aku

Malam pekat. Lampu kumatikan. Jadinya gelap. Aku terlelap. Kubermimpi. Tidak bagus. Aku tidak suka. Ingin terbangun. Namun tak kuasa. Kepayahan. Kelelahan. Ku tetap berusaha. Susah. Aku belum terbangun juga. Letih. Aku ingin bangun. Iya, keluar dari mimpi ini. Ayo bangun. Tidak bisa. Mimpi itu terus mengejarku. Ayo, aku bisa, kataku. Berusaha. Berusaha. Berusaha. Aku tersentak. Aku berhasil. Aku bangun. Aku terengah.

Kucari telepon selulerku. Kuraih. Kucari namamu. Kutekan tombol hijau. Aku menghubungimu. Aku mendapatkanmu. Aku mendengar suaramu. Suara yang selalu membuatku tentram.

"Aku bermimpi buruk. Temani aku."

"Iya, aku temani kamu."

"…"

"…"

Hanya dalam seketika aku terlelap lagi dengan headphone menempel di telinga; dengan rasa nyaman yang menempel di hati.

Terima kasih ya.

poliandri & poligami

jika aku ditanya tentang hal itu,

jawabku hanya satu:

"urusan kamar tidak bisa dibagi!"

itu saja.

Pagi ini hujan

Pagi ini hujan. Aku berada di lantai tiga, duduk dekat dengan jendela. Aku bisa melihat dengan jelas rintiknya, bukan gerimis, bukan deras. Menawan. Ingin ku berlari di bawahnya.

Pagi ini hujan. Hujan di akhir november, sejuk, mengingatkanku pada natal yang semakin mendekat. Aku suka.

Pagi ini hujan. Ada rindu yang menelusup dalam hati. Hangat.

Pagi ini hujan. Hujan yang tidak dingin, namun hangat.

« Previous PageNext Page »